KARAWANG — Cerita rakyat bukan sekadar kisah yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Di dalamnya tersimpan ingatan kolektif masyarakat, cara pandang terhadap kehidupan, serta jejak kebudayaan yang membentuk identitas suatu daerah.
Berangkat dari pemikiran tersebut, Karawang Heritage menggagas Karawang Story Project, sebuah inisiatif pengembangan cerita rakyat Karawang melalui pendekatan digital storytelling. Program ini diarahkan untuk membawa kisah-kisah lokal keluar dari halaman buku dan memperkenalkannya kembali melalui berbagai medium digital.
Tahap awal proyek ini direncanakan berangkat dari buku 54 Cerita Babad dan Legenda Rakyat Karawang karya Asep R. Sundapura. Tiga cerita yang diprioritaskan untuk pengembangan awal adalah Asal Mula Karawang Karawaan, Asal-usul Batujaya, dan Riwayat Goyang Karawang.
Ketiganya dipilih untuk membuka eksplorasi dari tiga sisi berbeda: asal-usul wilayah, kisah yang berkaitan dengan warisan sejarah, serta ekspresi budaya yang dikenal dalam kehidupan masyarakat Karawang.
Ketua Karawang Heritage, Asep R. Sundapura, memandang digitalisasi sebagai salah satu jalan untuk menjaga agar cerita rakyat tetap memiliki tempat dalam kehidupan masyarakat masa kini.
Menurutnya, pelestarian kebudayaan tidak cukup berhenti pada upaya menghimpun dan menerbitkan cerita dalam bentuk buku. Diperlukan cara penyampaian yang mampu mengikuti perubahan kebiasaan masyarakat dalam mengakses informasi.
“Cerita rakyat perlu terus diceritakan kembali. Buku merupakan salah satu cara untuk merawatnya, tetapi hari ini kita juga memiliki ruang digital yang memungkinkan cerita-cerita itu menjangkau lebih banyak orang, terutama generasi muda,” ujar Asep dalam penjelasannya mengenai rencana proyek tersebut.
Membawa cerita lokal ke ruang digital
Melalui Karawang Story Project, cerita rakyat direncanakan untuk dikembangkan menjadi artikel digital, video storytelling, narasi audio, dan ilustrasi visual. Konten-konten tersebut nantinya dapat dihubungkan dengan publikasi di Sundapura.id sebagai bagian dari upaya memperluas akses terhadap literasi budaya lokal.
Pendekatan ini memungkinkan satu cerita hadir dalam beberapa format tanpa kehilangan inti narasinya. Pembaca dapat mengenal cerita melalui artikel, sementara audiens lain dapat mengaksesnya melalui video atau audio.
Meski demikian, pengembangan digital bukan sekadar mengubah teks menjadi konten media sosial. Setiap cerita tetap perlu memperhatikan sumber penuturan, konteks budaya, dan perbedaan antara legenda, tradisi lisan, serta fakta sejarah yang dapat diverifikasi.
Asep menilai aspek tersebut penting agar proses digitalisasi tidak menghilangkan makna cerita atau mencampuradukkan tradisi lisan dengan keterangan sejarah yang belum teruji.
“Teknologi seharusnya membantu kita mendekatkan kebudayaan kepada masyarakat, bukan membuatnya kehilangan konteks. Karena itu, cerita perlu disajikan secara menarik, tetapi sumber dan konteksnya juga harus diperhatikan,” katanya.
Merawat ingatan, menjangkau generasi baru
Bagi Karawang Heritage, tantangan pelestarian budaya saat ini bukan hanya bagaimana menyelamatkan cerita dari kemungkinan terlupakan, melainkan juga bagaimana membuatnya tetap relevan bagi masyarakat yang hidup dalam lingkungan informasi digital.
Karawang Story Project direncanakan menjadi salah satu langkah untuk menjawab tantangan tersebut. Dalam perkembangannya, proyek ini berpotensi membuka ruang kolaborasi dengan penutur cerita, pegiat budaya, komunitas, pendidik, dan pihak lain yang memiliki perhatian terhadap sejarah serta kebudayaan Karawang.
Asep berharap, pengembangan cerita rakyat melalui teknologi dapat mendorong masyarakat untuk kembali mengenali kekayaan narasi yang tumbuh di lingkungannya sendiri.
“Bagi saya, cerita rakyat bukan hanya bagian dari masa lalu. Ia merupakan sumber pengetahuan tentang bagaimana masyarakat memahami lingkungan, nilai kehidupan, dan identitasnya. Tugas kita adalah merawatnya, memeriksa konteksnya, lalu menemukan cara agar pengetahuan itu tetap bisa diwariskan,” ujar Asep.
Melalui Karawang Story Project, Karawang Heritage berupaya menempatkan cerita rakyat bukan semata-mata sebagai peninggalan yang dikenang, melainkan sebagai warisan pengetahuan yang dapat terus dipelajari dan diperkenalkan kepada generasi berikutnya.

