Budayawan dan penulis lokal Karawang, Asep R. Sundapura, mengikuti rapat koordinasi Tim Penggerak Literasi Daerah (TPLD) yang digelar pada 29 Januari 2026. Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya Pemerintah Kabupaten Karawang dalam memperkuat pengembangan literasi di berbagai dimensi, mulai dari literasi budaya, digital, finansial, numerik, hingga media.
TPLD sendiri dibentuk langsung oleh Bupati Karawang sebagai wadah kolaboratif lintas sektor untuk mendorong kemajuan literasi daerah secara berkelanjutan. TPLD Kabupaten Karawang berisi para penggiat literasi di berbagai sektor mulai dari dunia pendidikan, kewirausahaan, birokrat, media dan juga budaya. TPLD ini diresmikan pada akhir Desember 2025.
Penunjukan Asep R. Sundapura sebagai bagian dari tim TPLD menegaskan posisinya sebagai salah satu figur kultural yang konsisten menyuarakan pentingnya literasi dalam pembangunan manusia dan kebudayaan. Dalam pandangannya, literasi tidak bisa lagi dimaknai secara sempit sebagai kemampuan membaca dan menulis, melainkan sebagai kecakapan memahami, menafsirkan, dan menyikapi realitas sosial yang semakin kompleks di era kontemporer.
Asep menilai bahwa tantangan literasi di daerah saat ini justru semakin berat di tengah kemajuan teknologi dan arus informasi yang nyaris tanpa batas. Masyarakat dibanjiri informasi dari berbagai platform digital, namun tidak selalu dibekali kemampuan berpikir kritis untuk memilah kebenaran, memahami konteks, dan menjaga etika bermedia. Dalam situasi seperti ini, literasi digital dan media menjadi kebutuhan mendesak, bukan sekadar pelengkap.
Sebagai penulis dan juga budayawan, Asep juga menaruh perhatian besar pada kondisi literasi budaya lokal yang kian terpinggirkan. Ia melihat tradisi lisan, sejarah lokal, pengetahuan tradisional, dan karya-karya kebudayaan daerah menghadapi ancaman pelupaan di tengah dominasi budaya populer dan pola konsumsi instan.
Padahal, literasi budaya merupakan fondasi penting bagi pembentukan identitas dan karakter masyarakat. Tanpa kesadaran terhadap akar budayanya sendiri, masyarakat daerah berisiko kehilangan pijakan dalam menghadapi perubahan zaman.
Dari perspektif kepenulisan, Asep menyoroti masih lemahnya ekosistem literasi di tingkat lokal. Akses terhadap bacaan berkualitas, ruang dialog intelektual, penerbitan lokal, serta apresiasi terhadap karya tulis dan gagasan kritis belum sepenuhnya tumbuh secara sehat. Literasi kerap berhenti pada kegiatan seremonial, belum menjelma sebagai praktik hidup yang berkelanjutan dan membumi.
Melalui keterlibatannya di TPLD, Asep R. Sundapura berharap lahir pendekatan literasi yang lebih kontekstual dan inklusif, berangkat dari realitas sosial dan budaya masyarakat Karawang. Ia mendorong agar literasi tidak hanya hadir di ruang-ruang formal seperti sekolah dan birokrasi, tetapi juga tumbuh di komunitas, desa, ruang budaya, dan ekosistem digital. Sinergi antara pemerintah, pegiat literasi, seniman, pendidik, dan masyarakat luas dinilai menjadi kunci agar literasi benar-benar berdampak.
Menurut Asep R Sundapura, literasi pada akhirnya adalah kerja kebudayaan: upaya panjang untuk membangun kesadaran, kepekaan, dan daya pikir masyarakat. Melalui TPLD, Asep berharap literasi dapat menjadi kekuatan strategis yang tidak hanya mencerdaskan, tetapi juga memperkuat identitas, karakter, dan daya hidup masyarakat Karawang dalam menghadapi tantangan zaman.
(DSN)






