Gagasan Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, yang berencana menata kawasan Alun-alun Karawang menjadi kawasan “Kota Tua Penuh Cinta” mulai memantik perhatian publik. Konsep yang menggabungkan penataan ruang kota, pelestarian sejarah, ruang budaya, hingga wajah wisata urban tersebut dinilai dapat menjadi identitas baru Karawang di tengah derasnya industrialisasi modern.

Di tengah berbagai respons masyarakat, anggota DPRD Provinsi Jawa Barat Fraksi PDI Perjuangan dari Dapil Karawang–Purwakarta, Pipik Taufik Ismail, menyampaikan pandangannya secara terbuka. Bagi Pipik, gagasan tersebut merupakan langkah positif selama pembangunan tidak berhenti pada estetika semata, melainkan benar-benar mampu menghidupkan ekonomi rakyat kecil dan menjaga ruh sejarah Karawang.
“Karawang ini jangan hanya dikenal sebagai kota industri. Kita punya sejarah panjang, punya identitas budaya, punya jejak perjuangan bangsa. Kalau kawasan alun-alun dan kota tua ditata dengan baik, ini bisa menjadi wajah baru Karawang yang lebih manusiawi dan berkarakter,” ujar Pipik saat dimintai tanggapannya terkait rencana penataan kawasan tersebut.
Sebagai politisi PDI Perjuangan yang dikenal aktif dalam isu pembangunan dan sosial kemasyarakatan, Pipik menilai revitalisasi kawasan kota harus berpihak kepada masyarakat lokal. Ia menegaskan bahwa konsep “Kota Tua Penuh Cinta” jangan sampai hanya melahirkan ruang-ruang komersial yang akhirnya sulit diakses rakyat kecil.
“Yang harus menjadi prioritas adalah bagaimana UMKM lokal hidup, pedagang kecil tetap punya ruang, seniman lokal dilibatkan, dan masyarakat sekitar mendapatkan manfaat ekonomi langsung. Jangan sampai pembangunan bagus, tetapi rakyatnya malah tersingkir,” katanya.
Karawang sendiri dalam beberapa tahun terakhir menghadapi tantangan serius sebagai daerah industri. Di satu sisi, pertumbuhan investasi terus meningkat. Data Kementerian Investasi/BKPM menunjukkan Jawa Barat masih menjadi salah satu tujuan investasi terbesar nasional, dengan kawasan industri Karawang menjadi pusat manufaktur otomotif dan teknologi nasional. Namun di sisi lain, tekanan urbanisasi, hilangnya ruang publik, kemacetan, hingga berkurangnya identitas budaya lokal menjadi persoalan yang mulai dirasakan masyarakat.
Pipik melihat gagasan penataan kawasan kota tua dapat menjadi momentum penting untuk mengembalikan wajah sosial Karawang yang mulai tergerus industrialisasi.
“Kita tidak boleh kehilangan akar sejarah kita sendiri. Di tengah gedung-gedung industri dan kawasan modern, Karawang tetap harus punya ruang budaya, ruang sejarah, dan ruang kebersamaan masyarakat,” ujarnya.
Ia juga menyoroti pentingnya mengangkat nilai historis Karawang sebagai daerah perjuangan dan lumbung budaya Sunda pesisir. Menurutnya, kawasan kota tua nantinya harus menghadirkan narasi sejarah yang kuat, bukan sekadar tempat swafoto atau pusat kuliner modern.
“Kalau konsepnya kota tua, maka sejarah Karawang harus benar-benar dihidupkan. Ada edukasi sejarah, ada ruang seni budaya, ada identitas lokal. Jangan hanya mengejar viral di media sosial,” kata Pipik.
Pandangan tersebut sejalan dengan sikap umum PDI Perjuangan yang selama ini menekankan pembangunan berbasis kebudayaan dan kerakyatan. Ketua Umum Megawati Soekarnoputri dalam berbagai kesempatan juga kerap menekankan pentingnya pembangunan yang tidak tercerabut dari identitas sejarah dan budaya bangsa.
Selain aspek budaya, Pipik juga mengingatkan agar penataan kawasan memperhatikan dampak sosial terhadap masyarakat kecil di sekitar alun-alun. Ia meminta pemerintah daerah melakukan dialog terbuka dengan pedagang kaki lima, komunitas lokal, hingga warga terdampak sebelum pembangunan dijalankan.
“Pembangunan yang baik itu pembangunan yang melibatkan rakyat sejak awal. Jangan masyarakat hanya jadi penonton. Aspirasi mereka harus didengar,” ujarnya.
Menurut Pipik, apabila dikelola dengan tepat, kawasan Kota Tua Karawang dapat menjadi pusat ekonomi kreatif baru yang membuka lapangan kerja bagi anak muda. Ia menilai sektor wisata sejarah, seni budaya, dan UMKM lokal memiliki potensi besar untuk berkembang di tengah tren wisata berbasis pengalaman dan budaya lokal yang kini semakin diminati masyarakat.
Berdasarkan tren nasional sektor ekonomi kreatif, subsektor kuliner, fesyen, dan kriya masih menjadi penyumbang terbesar terhadap ekonomi kreatif Indonesia. Jawa Barat sendiri menjadi salah satu provinsi dengan kontribusi ekonomi kreatif terbesar di Indonesia, terutama dari sektor budaya dan UMKM lokal.
“Anak-anak muda Karawang punya kreativitas luar biasa. Kalau ruang publiknya dibangun dengan konsep yang baik, ini bisa menjadi ruang tumbuh ekonomi kreatif dan kebudayaan rakyat,” kata Pipik.

