Kunjungan ke Lawang Sewu pada 3 April 2026 menjadi momentum penting bagi Pipik Taufik Ismail dalam mendorong pengembangan wisata sejarah di Karawang. Legislator yang dikenal aktif di sektor kebudayaan dan ekonomi kreatif ini menilai, pengelolaan destinasi bersejarah seperti Lawang Sewu dapat menjadi model konkret untuk meningkatkan daya tarik wisata berbasis sejarah di daerahnya.
Bangunan ikonik yang berdiri di pusat Semarang tersebut memiliki nilai historis kuat. Dibangun pada awal abad ke-20 sebagai kantor pusat perusahaan kereta api Hindia Belanda, Lawang Sewu kini bertransformasi menjadi museum edukatif yang dikelola oleh KAI Wisata. Selain menyimpan jejak sejarah kolonial dan masa pendudukan Jepang, bangunan ini juga menghadirkan pengalaman wisata modern melalui pameran interaktif dan wahana digital.
Keunikan arsitekturnya yang memiliki ratusan pintu dan jendela, lengkap dengan kaca patri bergaya Eropa, menjadikan Lawang Sewu bukan sekadar situs sejarah, tetapi juga destinasi visual yang memikat. Fungsi ruang bawah tanah yang dulunya dikenal sebagai lokasi penahanan kini menjadi bagian dari narasi sejarah yang menarik minat wisatawan domestik maupun mancanegara.
Pipik melihat pendekatan tersebut sebagai kombinasi ideal antara pelestarian sejarah dan inovasi pariwisata. Menurutnya, Karawang memiliki potensi serupa yang belum tergarap optimal, terutama dalam mengemas cerita sejarah menjadi pengalaman yang hidup dan relevan bagi generasi masa kini.
“Lawang Sewu menunjukkan bahwa situs sejarah tidak harus statis. Dengan pengelolaan yang tepat, tempat seperti ini bisa menjadi pusat edukasi sekaligus destinasi wisata unggulan. Karawang punya banyak cerita besar, tinggal bagaimana kita mengemasnya secara profesional,” ujar Pipik.
Sebagai anggota Komisi IV DPRD Jawa Barat, Pipik dikenal konsisten mendorong penguatan sektor pariwisata berbasis budaya. Ia menekankan pentingnya sinergi antara pemerintah daerah, pelaku industri kreatif, dan masyarakat dalam membangun ekosistem wisata yang berkelanjutan.
Ia juga menyoroti pentingnya inovasi dalam penyajian sejarah, termasuk pemanfaatan teknologi digital dan storytelling yang kuat. Menurutnya, generasi muda perlu diajak untuk tidak hanya mengetahui sejarah, tetapi juga merasakan dan mengalaminya secara langsung.
“Kalau kita ingin wisata sejarah diminati, maka pendekatannya harus adaptif. Perlu ada sentuhan teknologi, narasi yang kuat, dan pengalaman yang imersif. Itu yang saya lihat berhasil di Lawang Sewu,” tambahnya.
Ke depan, Pipik berharap kunjungan ini menjadi titik awal lahirnya strategi baru dalam pengembangan wisata sejarah di Karawang. Dengan pendekatan yang tepat, ia optimistis daerah tersebut dapat menjelma menjadi destinasi unggulan yang tidak hanya menarik wisatawan, tetapi juga memperkuat identitas budaya lokal.
Langkah konkret dan visi yang dibawanya menegaskan posisi Pipik sebagai salah satu figur kunci dalam mendorong transformasi sektor pariwisata Jawa Barat berbasis sejarah dan inovasi.

