Aula Museum Candi Batujaya, Karawang, pada 17 Januari 2026 menjadi saksi pertemuan antara semangat muda dan gagasan besar tentang kepemimpinan. Puluhan mahasiswa STIE Budi Pertiwi Karawang berkumpul dalam kegiatan Latihan Dasar Kepemimpinan Mahasiswa (LDKM) yang mengusung tema “Membangun Karakter Kepemimpinan yang Berintelektual, Inovatif, dan Berintegritas”. Di ruang yang sarat nilai sejarah itu, hadir anggota DPRD Jawa Barat, Pipik Taufik Ismail, sebagai narasumber utama yang membagikan pandangan tentang kepemimpinan dan relevansinya dengan jati diri kebudayaan generasi muda.
Sejak awal pemaparannya, Pipik Taufik Ismail menegaskan bahwa kepemimpinan bukanlah sekadar jabatan atau posisi formal, melainkan proses panjang membentuk karakter. Menurutnya, seorang pemimpin lahir dari kebiasaan berpikir kritis, keberanian mengambil keputusan, serta kemampuan memahami realitas sosial di sekitarnya. Di hadapan mahasiswa, ia menyampaikan bahwa intelektualitas menjadi fondasi utama kepemimpinan masa kini. Namun, intelektual yang dimaksud bukan hanya kecakapan akademik, melainkan kemampuan membaca persoalan masyarakat dan menawarkan solusi yang relevan.
Ia mengajak mahasiswa untuk tidak terjebak pada pola pikir instan. Pipik menilai, generasi muda saat ini hidup di era serba cepat, di mana informasi mengalir deras tanpa henti. Tantangannya bukan lagi kekurangan pengetahuan, melainkan kemampuan memilah, mengolah, dan menggunakannya secara bijak. Dari sinilah peran kepemimpinan intelektual menjadi penting, yakni kepemimpinan yang berangkat dari nalar kritis, empati sosial, dan keberanian menyampaikan kebenaran.
Lebih jauh, Pipik menekankan pentingnya inovasi sebagai ruh kepemimpinan generasi muda. Ia menyebut bahwa inovasi tidak selalu berarti menciptakan sesuatu yang sepenuhnya baru, melainkan keberanian memperbarui cara berpikir dan bertindak. Mahasiswa, menurutnya, memiliki posisi strategis sebagai agen perubahan karena berada di persimpangan antara dunia akademik dan realitas sosial. Dengan bekal ilmu dan kreativitas, mahasiswa diharapkan mampu menghadirkan terobosan yang berdampak nyata bagi lingkungan sekitarnya.
Dalam konteks ini, Pipik mengingatkan agar inovasi tidak tercerabut dari nilai-nilai lokal. Bertempat di kawasan bersejarah Batujaya, ia mengajak peserta LDKM untuk merefleksikan makna kebudayaan sebagai akar identitas. Candi Batujaya, menurutnya, bukan sekadar peninggalan masa lalu, tetapi simbol peradaban yang menunjukkan bahwa masyarakat Nusantara telah lama memiliki sistem nilai, pengetahuan, dan kepemimpinan yang kuat. Generasi muda ditantang untuk memadukan semangat modernitas dengan kearifan lokal agar inovasi yang lahir tetap membumi dan berkarakter.
Di hadapan mahasiswa STIE Budi Pertiwi Karawang, Pipik juga berbagi pandangannya tentang peran generasi muda dalam menjaga jati diri kebudayaan. Ia menilai bahwa globalisasi membawa peluang sekaligus tantangan. Budaya asing dengan mudah masuk dan memengaruhi cara berpikir generasi muda. Namun, ia mengingatkan bahwa keterbukaan terhadap dunia luar tidak boleh menghilangkan identitas bangsa. Kepemimpinan generasi muda harus mampu menjadi jembatan antara nilai-nilai global dan karakter lokal Indonesia.
Menurut Pipik, mahasiswa perlu membangun kesadaran bahwa kepemimpinan sejati dimulai dari diri sendiri. Ia mendorong peserta LDKM untuk aktif berorganisasi, terlibat dalam kegiatan sosial, dan berani mengambil peran di lingkungan kampus maupun masyarakat. Dari proses itulah karakter kepemimpinan ditempa. Ia menegaskan bahwa kegagalan dan kritik adalah bagian dari perjalanan, bukan alasan untuk berhenti melangkah.
Kegiatan LDKM yang diselenggarakan oleh STIE Budi Pertiwi Karawang ini menjadi ruang pembelajaran yang tidak hanya bersifat teoritis, tetapi juga reflektif. Suasana Aula Museum Candi Batujaya memberikan nuansa tersendiri, seolah mengingatkan peserta bahwa kepemimpinan memiliki dimensi sejarah dan tanggung jawab lintas generasi.
Aisy/DSN/AR





