Pedagang ikan pindang di Karawang melaporkan tekanan berat akibat lonjakan harga bahan baku (10/11/2026). Warga penjual di kawasan Cicinde — salah satu sentra pengrajin pindang — mengatakan banyak rekan yang memilih berhenti berjualan karena sulit mencari keuntungan setelah biaya produksi naik tajam.
Menurut keterangan pedagang yang dihimpun, harga satu kardus pindang (10 kg) pada Februari 2025 berada di kisaran Rp180.000. Satu tahun kemudian, pada Februari 2026, harga yang sama melonjak menjadi sekitar Rp310.000 — hampir dua kali lipat dalam 12 bulan. Kondisi ini membuat margin pedagang kecil nyaris habis, sementara beberapa bahkan menghentikan usahanya. Pernyataan pedagang juga menyebutkan harga ikan deles sempat mencapai Rp300.000 (laporan pedagang lokal).
Lonjakan harga bandeng/pindang yang dirasakan di tingkat lokal sejalan dengan tren pergerakan harga ikan di tingkat nasional dan regional. Data pemantauan harga komoditas perikanan menunjukkan fluktuasi dan kecenderungan kenaikan pada beberapa periode 2025, termasuk komoditas bandeng yang mengalami kenaikan rata-rata beberapa bulan terakhir.
Di pasar daring dan retailer, harga pindang bandeng beragam: ada produk kemasan yang dipasarkan mulai belasan hingga puluhan ribu rupiah per ekor atau paket, tergantung jenis dan ukuran. Perbedaan harga antar saluran distribusi ini turut memberi tekanan bagi pedagang tradisional yang menjual dalam skala dan model usaha mikro.
Cicinde dan desa-desa di Banyusari dikenal sebagai sentra industri pindang di Karawang; keberadaan “kampung pindang” memberi nilai ekonomi bagi banyak rumah tangga. Namun saat harga bahan baku dan biaya produksi naik, keberlanjutan usaha mikro-kecil pengolah pindang juga terancam. Pemerintah daerah dan pemangku kepentingan sebelumnya telah menyoroti pentingnya menjaga produksi pindang sebagai sumber ekonomi lokal.
Menanggapi kondisi ini, Dinas Perikanan Karawang beberapa kali melakukan intervensi berupa pelatihan dan bantuan alat untuk pelaku usaha pindang skala mikro agar produktivitas meningkat dan biaya lebih efisien. Namun para pelaku usaha menyatakan bahwa intervensi tersebut belum sepenuhnya menutupi tekanan kenaikan harga bahan baku yang bersifat eksternal (mis. pasokan ikan di laut, cuaca, dan distribusi).
(DSN/Aruh)





