Karawang — Kondisi ruas Jalan Pantai Utara (Pantura) yang melintas di sepanjang Kabupaten Karawang kian memprihatinkan. Jalan nasional strategis yang menjadi urat nadi arus transportasi dan perekonomian masyarakat ini kini dipenuhi lubang besar dan kerusakan struktural yang membahayakan pengguna jalan. Fenomena ini tidak hanya terjadi di wilayah Klari atau Cikampek, namun juga menjalar ke daerah Jatisari dan Banyusari yang selama ini menjadi jalur penting bagi warga maupun pemudik.
Kerusakan Jalan Menjadi Ancaman Nyata di Jatisari
Kondisi terbaru menunjukkan bahwa kerusakan tidak hanya berada di jalan nasional. Ruas jalan kabupaten yang menghubungkan Desa Jayamukti (Banyusari) hingga pertigaan Cikalongsari (Jatisari) juga dipenuhi lubang yang menganga di banyak titik. Kerusakan tersebut membuat permukaan jalan tidak rata, sehingga pengguna sepeda motor atau kendaraan kecil berisiko tergelincir, terutama saat hujan.
Warga setempat menyebut kondisi ini ibarat “melintasi lautan bergelombang,” menggambarkan betapa ekstremnya kontur jalan akibat lubang yang tajam. Perbaikan sementara yang sebelumnya dilakukan dengan metode tambal sulam justru cepat rusak setelah diterpa hujan deras. Sementara itu perbaikan di beberapa titik berupa hotmix hanya berlangsung sekitar 5 kilometer dan kini menjadi satu-satunya bagian yang relatif masih layak dilintasi.
Tak hanya itu, sejumlah video dan foto yang beredar di media sosial juga menunjukkan lubang besar di Pantura Jatisari yang membutuhkan kewaspadaan ekstra bagi para pengendara.
Kecelakaan dan Aksi Warga Mewakili Keprihatinan Publik
Kerusakan yang berkepanjangan tidak hanya menimbulkan gangguan kenyamanan, namun juga ancaman kecelakaan. Sejumlah insiden, termasuk kecelakaan tunggal yang melibatkan truk bermuatan di Pantura Jatisari beberapa waktu lalu, menjadi bukti nyata risiko tersebut.
Desakan terhadap perbaikan jalan pun kian menguat. Warga dan mahasiswa yang tergabung dalam Komite Rakyat Sipil Karawang pernah melakukan aksi protes di berbagai titik Pantura, termasuk di wilayah Klari dengan membawa spanduk bertuliskan “Karawang Darurat Jalan Berlubang.” Aksi ini memicu perhatian publik dan menjadi simbol kekecewaan masyarakat terhadap lambatnya penanganan jalan yang rusak.
Tanggung Jawab Pemerintah dan Harapan Warga
Pemerintah daerah melalui Bupati Karawang telah memberikan respons, terutama terhadap kerusakan jalan kabupaten yang menjadi tanggung jawab daerah. Bupati menyatakan akan mengupayakan perbaikan ruas jalan alternatif mudik — seperti Krasak–Cikalong — sebelum momen Lebaran, dan terus menyampaikan kondisi Pantura kepada pihak PPK 1.1 Jawa Barat yang merupakan perwakilan dari Kementerian Pekerjaan Umum.
Namun, banyak warga merasa penanganan yang dilakukan belum memadai. Mereka berharap ada penanganan permanen dan menyeluruh, bukan sekadar tambal sulam yang cepat rusak. Perbaikan struktural menjadi tuntutan utama masyarakat, sekaligus langkah penting demi keselamatan dan lancarnya arus distribusi barang dan jasa di Karawang.
Dampak Sosial-Ekonomi yang Luas
Kerusakan jalan bukan sekadar persoalan estetika, tetapi berdampak luas pada aspek sosial dan ekonomi. Jalur Pantura dan ruas jalan alternatif seperti di Jatisari merupakan jalur vital yang dilalui truk angkutan barang, kendaraan pribadi, hingga pemudik. Ketidaklayakan jalan memperlambat arus transportasi, menaikkan biaya operasional, hingga mengakibatkan kerugian materi karena kecelakaan atau kerusakan kendaraan.
Dalam jangka panjang, kondisi ini juga dapat menurunkan daya saing daerah, mengingat Karawang merupakan salah satu dari sentra industri dan perdagangan strategis di Provinsi Jawa Barat.
(Iqbal)






